Meja Makan
Saat
pertama kali meja makan itu hadir di rumah kami, ada ekspresi kebahagiaan Bapak
yang tidak biasa. Bapak tersenyum sangat lebar, Bapak tertawa-tawa, bahkan
hingga melonjak-lonjak karena tidak sanggup menahan luapan perasaannya sendiri.
Bapak
sangat mencintai meja makan itu, atau lebih tepatnya menggilai. Pernah suatu
ketika, aku sangat penasaran dengan rasa bahagia yang tiba-tiba saja dimiliki
Bapak, dari meja makan itu. Aku mencoba tersenyum, tertawa, lalu
meloncat-loncat di atasnya. Bapak yang memergoki perbuatanku, merenggutku
dengan kasar dari atas meja makan. Aku ditempeleng dan dimarahinya
habis-habisan. Aku dihadiahi umpatan-umpatan: anak tak tahu diri, anak kurang
ajar, anak tak tahu diuntung. Masih beruntung aku tidak dikatai anak durhaka.
Meja
makan itu sudah seperti istri lainnya bagi Bapak. Setiap pagi saat matanya
pertama kali terbuka, maka yang akan dicarinya adalah meja makan itu. Dia akan
segera bangun dari tempat tidur, melepaskan tubuhnya dari pelukan ibu, lalu
keluar kamar untuk memeluk meja makannya. Bahkan tak jarang Bapak tidak tidur
dengan Ibu: ia memilih menangkupkan tubuhnya di atas meja. Tentang kebiasaan
Bapak ini, Ibu sudah mafhum.
Awal
kehadiran meja makan itu, seperti ada perang kecil di rumahku. Ibu protes keras
karena Bapak tidak meminta persetujuan Ibu terlebih dahulu. Belum lagi, Bapak
menggunakan uang yang selama ini dikumpulkan dari hasil Ibu dan Bapak berjualan
keripik emping di pasar kampung. Tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun itu,
habis seketika hanya untuk membeli meja makan itu.
“Uang
itu untuk biaya sekolah anak kita. Bapak mau, anak kita bodoh seperti kita?
Bapak mau mewariskan penderitaan kita?” Ibu marah luar biasa.
“Justru
dengan meja makan ini, Bapak bisa memperbaiki nasib keluarga kita!” Kemarahan
Bapak juga tak kalah hebatnya karena merasa keputusannya sebagai kepala
keluarga tidak dihargai.
Entah
berapa kali pertengkaran Bapak dan Ibu terjadi, gara-gara meja makan itu. Selain
masalah harga meja itu yang menurut Ibu luar biasa mahalnya, Ibu juga tidak
senang dengan bentuknya yang bulat. Menurut Ibu, meja makan itu harusnya
berbentuk persegi. Tapi rupanya masalah perbedaan selera ini menjadi bahan
pertengkaran terakhir seputar meja makan itu. Ibu lelah sendiri dengan segala
protesnya. Dan pada akhirnya ikut senang melihat kebagaian Bapak. Kebahagiaan
yang tidak sepenuhnya dimengerti Ibu.
Bapak
tidak membeli meja makan itu dari toko furnitur. Menurut Bapak, meja makan itu
bukan meja makan seperti kebanyakan yang dijual kepada sembarang orang. Bapak
mendapatkannya dari seseorang yang memiliki kesaktian tinggi, nun jauh dari
kampung ini. Seorang sakti yang menurutnya sangat baik. Bahkan Bapak tidak mau
dikatakan bahwa telah membeli meja makan itu. Bapak lebih senang menuturkan
bahwa seorang sakti yang sangat baik itu, telah memilihnya untuk memiliki meja
itu. Mahar berupa uang yang cukup besar jumlahnya itu, tidak ada apa-apanya
dibandingkan nilai magis yang melekat padanya.
***
Sore
sudah beranjak dan senja akan segera naik, ketika Bapak duduk-duduk di kursi
depan rumah. Kang Parmin yang baru pulang dari sawah dan sedang melintas di
hadapan Bapak, diajaknya mampir. Wajah Kang Parmin yang kusut setelah kelelahan
seharian bersawah, langsung sumringah dan tersenyum sangat pantas, senyum
paling pantas yang pernah kulihat pernah hinggap di wajah Kang Parmin. Menurut
saja Kang Parmin digandeng Bapak menuju ruang tamu. Bapak dan Kang Parmin duduk
berseberangan. Dalam keadaan seperti ini, aku sudah tahu hal yang akan terjadi
berikutnya: Bapak meminta Ibu untuk menyiapkan sajian yang akan disantapnya
bersama Kang Parmin.
Memang
kehadiran meja makan itu menimbulkan kebiasaan Bapak yang baru. Bapak jadi
gemar sekali menerima tamu. Atau lebih tepatnya, Bapak jadi gemar untuk membuat
orang bertamu ke rumah kami, untuk diajaknya makan bersama.
Dan
selalu, orang yang diajak bertamu tidak pernah ada yang menolak ajakan Bapak.
Pasalnya, kelezatan makanan yang dihidangkan di atas meja makan itu, sudah
termasyhur seantero kampung. Bahkan kabar terus tersiar dari mulut ke mulut
hingga ke kampung-kampung seberang. Tidak heran bahwa orang-orang sangat
berharap untuk diajak bertamu oleh Bapak.
Bapak
tidak memiliki cara khusus untuk mengundang tamu-tamunya. Tamu-tamu itu selalu
diundang dengan cara yang biasa, bahkan seolah-olah kebetulan. Kadang orang
yang sedang melintas saat Bapak duduk-duduk, diajak bertamu, seperti Kang
Parmin. Kadang orang yang berpapasan di jalan, di warung, atau di pasar, diajak
untuk bertamu dan makan bersama. Pernah juga suatu ketika, Bapak memintaku
untuk ke rumah Pak RT dan menyampaikan undangan untuk makan itu.
“Yang
betul kamu, saya akhirnya dapat giliran undangan makan? Saya gak lagi mimpi kan?” Pak RT bertanya
dengan raut wajah yang seolah tidak percaya, lalu menampar wajahnya sendiri
sebanyak tiga kali.
Aku
hanya mengangguk untuk sekali lagi meyakinkan Pak RT. Lalu dia tersenyum sangat
lebar, tertawa-tawa, bahkan melonjak-lonjak, mengingatkanku pada tingkah Bapak
saat menyambut meja makan itu. Jangan-jangan selain menimbulkan kemasyhuran
atas kenikmatan makanan yang dihidangkan di atasnya, meja makan Bapak telah
menularkan kebahagiaan yang absurd.
Bapak
selalu berhasil mencari tahu menu yang pas untuk disuguhkan kepada
tamu-tamunya. Setiap tamu disuguhi menu yang berbeda: menu-menu kesukaan
mereka. Pak RT sangat menyukai soto ayam, maka menu soto ayam bikinan Ibu
terhidang di meja makan itu.
“Ini
soto ajaib, soto ayam ternikmat yang pernah ada,” kata Pak RT usai menerima
jamuan Bapak. Semangkuk soto ayam tandas dalam sekejam. Tak tersisa walaupun
kuahnya barang sedikit saja.
Begitu
juga komentar tamu-tamu lainnya setiap kali selesai menerima jamuan dari Bapak.
Mereka selalu mengungkapkan bahwa menu-menu kesukaan mereka itu adalah yang
yang terlezat yang pernah ada. Menu yang sama yang acap kali mereka santap di
rumah, atau yang pernah mereka nikmati di rumah-rumah makan, kalah jauh jika
dibandingkan dengan menu yang mereka santap di atas meja makan Bapak.
Tentang
cara Bapak mengundang tamunya dengan sangat biasa, itu seolah muslihat saja.
Walaupun Bapak mengundang tamunya dengan cara sepintas lalu, ada perencanaan
yang matang sebelum itu. Alih-alih menjadi ahli derma dengan kebiasaan barunya
mengundang orang untuk maan bersama, selalu ada saja sesuatu yang Bapak
kehendaki dari tamu-tamunya itu.
“Tidak
ada makan siang gratis,” kata Bapak suatu ketika, menirukan idiom yang mulai
berkembang di Crescent City, lebih dari seabad lalu itu.
Setiap
tamunya selesai diajak makan, Bapak memang selalu menyisipkan
keinginan-keinginan, entah disadari atau tidak oleh tamu-tamu itu. Kepada Kang
Parmin, usai menikmati karedok berdua, Bapak mengutarakan bahwa karena sering
kali menjamu para tamu, persediaan beras cepat habis. Maka Kang Parmin dengan
suara mantap berjanji akan segera membawakan berkarung-karung beras.
Kepada
Pak RT, Bapak dengan nada yang serius menyampaikan bahwa dia tidak tahan dengan
udara malam dan tidak kuat begadang. Pak RT yang langsung menangkap maksud
Bapak, tanpa ragu mengabulkan apa yang diinginkannya itu. Maka terbebaslah
Bapak dari kewajibannya menjalankan ronda.
Pernah
juga yang diajak makan bersama oleh Bapak adalah saudagar kampung dengan
kekayaan tak terhitung. Bagi Bapak, dia tentu menjadi tamu agung. Beragam menu
dihidangkan untuk saudagar itu. Maka sudah bisa ditebak hal yang terjadi usai
makan bersama. Bapak minta macam-macam mulai dari televisi, lemari pendingin,
dan barang-barang lainnya. Bahkan Bapak minta sepeda motor juga. Semua
permintaan Bapak itu dikabulkan, tidak ada yang terlewat walaupun sebagiannya.
Di
hadapan meja makan, Bapak seperti menjadi si pahit lidah. Apa yang
dikehendakinya mesti diiyakan oleh yang bertamu. Tidak ada kata tidak. Singkat
cerita, Bapak memiliki segalanya. Segala perkakas rumah tangga, kendaraan,
persediaan makanan, binatang ternak, kebun dan sawah yang berhektare-hektare,
semuanya telah didapatkan Bapak. Segala sesuatu yang dulu hanya menjadi bahan
angan-angan, kini semuanya menjadi kenyataan. Bahkan ada hal-hal yang sekarang
dimilikinya, dulu tidak pernah dibayangkannya. Bapak benar-benar telah
bergelimang kekayaan, telah bergelimang ketenaran.
***
Bapak
berdiri terpaku di ruang tamu yang telah kosong. Dijambaknya rambut, diacak-acaknya. Lalu kedua tangannya
meremas-remas wajahnya dengan gemas. Bapak meraung sangat keras, raungan yang
mengerikan sekali. Lalu dia terkulai lemas, terduduk sambil memeluk kedua lututnya.
Bapak menangis merintih, tangis yang sangat menyayat, sungguh memilukan.
Saat
malam baru naik tadi, tak disangka Pak Lurah datang bertamu. Dibawanya kambing
guling, menu paling istimewa di kampung kami. Bapak merasa sangat terhormat
didatangi Pak Lurah apalagi dibawakan menu yang hanya untuk orang-orang
tertentu itu. Belum tiba gilirannya diundang, sudah datang, memang nasib baik
selalu memihak. Begitu pikir Bapak.
Memang
Bapak belum mendapat waktu yang pas untuk mengundang Pak Lurah. Akhir-akhir ini
Bapak sedikit gundah. Bapak memang telah memiliki segalanya, tetapi belum
memiliki kekuasaan. Kekuasaan tertinggi yang diidam-idamkan Bapak tentu saja
menjadi
lurah. Pikir Bapak, akan tiba masanya dia mengundang Pak
Lurah dan tidak lama kemudian Bapak lah yang akan menjadi lurah. Ketika malam
ini tiba-tiba Pak Lurah datang, itu adalah kebetulan yang sangat mengagumkan
bagi Bapak.
Setelah
menyantap kambing guling, Bapak dengan Pak Lurah ngobrol ke sana ke mari,
tentang persoalan-persoalan yang penting sampai yang tidak penting. Hingga
sampailah pada puncak seperti biasanya, yaitu menyampaikan keinginan-keinginan.
Namun jangankan jabatan lurah yang diperoleh Bapak: segala yang telah
didapatkan Bapak dengan mudah, lalu meja makan Bapak, bahkan Ibu, ternyata
diincar Pak Lurah dan ia berhasil
mendapatkannya. Bapak lupa satu hal bahwa yang berkuasa di hadapan meja makan
adalah yang menyiapkan menu.
Kini
di ruang tamu, Bapak tak lagi menangis dan telah bangun dari duduknya. Bapak
tersenyum lebar, sangat lebar. Lalu Bapak tertawa terbahak-bahak dan
melonjak-lonjak. Sepertinya Bapak sangat bahagia.
No comments:
Post a Comment