Friday, January 10, 2020

Contoh Cerpen - Meja Makan

Meja Makan

Saat pertama kali meja makan itu hadir di rumah kami, ada ekspresi kebahagiaan Bapak yang tidak biasa. Bapak tersenyum sangat lebar, Bapak tertawa-tawa, bahkan hingga melonjak-lonjak karena tidak sanggup menahan luapan perasaannya sendiri.
Bapak sangat mencintai meja makan itu, atau lebih tepatnya menggilai. Pernah suatu ketika, aku sangat penasaran dengan rasa bahagia yang tiba-tiba saja dimiliki Bapak, dari meja makan itu. Aku mencoba tersenyum, tertawa, lalu meloncat-loncat di atasnya. Bapak yang memergoki perbuatanku, merenggutku dengan kasar dari atas meja makan. Aku ditempeleng dan dimarahinya habis-habisan. Aku dihadiahi umpatan-umpatan: anak tak tahu diri, anak kurang ajar, anak tak tahu diuntung. Masih beruntung aku tidak dikatai anak durhaka.
Meja makan itu sudah seperti istri lainnya bagi Bapak. Setiap pagi saat matanya pertama kali terbuka, maka yang akan dicarinya adalah meja makan itu. Dia akan segera bangun dari tempat tidur, melepaskan tubuhnya dari pelukan ibu, lalu keluar kamar untuk memeluk meja makannya. Bahkan tak jarang Bapak tidak tidur dengan Ibu: ia memilih menangkupkan tubuhnya di atas meja. Tentang kebiasaan Bapak ini, Ibu sudah mafhum.
Awal kehadiran meja makan itu, seperti ada perang kecil di rumahku. Ibu protes keras karena Bapak tidak meminta persetujuan Ibu terlebih dahulu. Belum lagi, Bapak menggunakan uang yang selama ini dikumpulkan dari hasil Ibu dan Bapak berjualan keripik emping di pasar kampung. Tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun itu, habis seketika hanya untuk membeli meja makan itu.
“Uang itu untuk biaya sekolah anak kita. Bapak mau, anak kita bodoh seperti kita? Bapak mau mewariskan penderitaan kita?” Ibu marah luar biasa.
“Justru dengan meja makan ini, Bapak bisa memperbaiki nasib keluarga kita!” Kemarahan Bapak juga tak kalah hebatnya karena merasa keputusannya sebagai kepala keluarga tidak dihargai.
Entah berapa kali pertengkaran Bapak dan Ibu terjadi, gara-gara meja makan itu. Selain masalah harga meja itu yang menurut Ibu luar biasa mahalnya, Ibu juga tidak senang dengan bentuknya yang bulat. Menurut Ibu, meja makan itu harusnya berbentuk persegi. Tapi rupanya masalah perbedaan selera ini menjadi bahan pertengkaran terakhir seputar meja makan itu. Ibu lelah sendiri dengan segala protesnya. Dan pada akhirnya ikut senang melihat kebagaian Bapak. Kebahagiaan yang tidak sepenuhnya dimengerti Ibu.
Bapak tidak membeli meja makan itu dari toko furnitur. Menurut Bapak, meja makan itu bukan meja makan seperti kebanyakan yang dijual kepada sembarang orang. Bapak mendapatkannya dari seseorang yang memiliki kesaktian tinggi, nun jauh dari kampung ini. Seorang sakti yang menurutnya sangat baik. Bahkan Bapak tidak mau dikatakan bahwa telah membeli meja makan itu. Bapak lebih senang menuturkan bahwa seorang sakti yang sangat baik itu, telah memilihnya untuk memiliki meja itu. Mahar berupa uang yang cukup besar jumlahnya itu, tidak ada apa-apanya dibandingkan nilai magis yang melekat padanya.
***
Sore sudah beranjak dan senja akan segera naik, ketika Bapak duduk-duduk di kursi depan rumah. Kang Parmin yang baru pulang dari sawah dan sedang melintas di hadapan Bapak, diajaknya mampir. Wajah Kang Parmin yang kusut setelah kelelahan seharian bersawah, langsung sumringah dan tersenyum sangat pantas, senyum paling pantas yang pernah kulihat pernah hinggap di wajah Kang Parmin. Menurut saja Kang Parmin digandeng Bapak menuju ruang tamu. Bapak dan Kang Parmin duduk berseberangan. Dalam keadaan seperti ini, aku sudah tahu hal yang akan terjadi berikutnya: Bapak meminta Ibu untuk menyiapkan sajian yang akan disantapnya bersama Kang Parmin.
Memang kehadiran meja makan itu menimbulkan kebiasaan Bapak yang baru. Bapak jadi gemar sekali menerima tamu. Atau lebih tepatnya, Bapak jadi gemar untuk membuat orang bertamu ke rumah kami, untuk diajaknya makan bersama.
Dan selalu, orang yang diajak bertamu tidak pernah ada yang menolak ajakan Bapak. Pasalnya, kelezatan makanan yang dihidangkan di atas meja makan itu, sudah termasyhur seantero kampung. Bahkan kabar terus tersiar dari mulut ke mulut hingga ke kampung-kampung seberang. Tidak heran bahwa orang-orang sangat berharap untuk diajak bertamu oleh Bapak.
Bapak tidak memiliki cara khusus untuk mengundang tamu-tamunya. Tamu-tamu itu selalu diundang dengan cara yang biasa, bahkan seolah-olah kebetulan. Kadang orang yang sedang melintas saat Bapak duduk-duduk, diajak bertamu, seperti Kang Parmin. Kadang orang yang berpapasan di jalan, di warung, atau di pasar, diajak untuk bertamu dan makan bersama. Pernah juga suatu ketika, Bapak memintaku untuk ke rumah Pak RT dan menyampaikan undangan untuk makan itu.
“Yang betul kamu, saya akhirnya dapat giliran undangan makan?  Saya gak lagi mimpi kan?” Pak RT bertanya dengan raut wajah yang seolah tidak percaya, lalu menampar wajahnya sendiri sebanyak tiga kali.
Aku hanya mengangguk untuk sekali lagi meyakinkan Pak RT. Lalu dia tersenyum sangat lebar, tertawa-tawa, bahkan melonjak-lonjak, mengingatkanku pada tingkah Bapak saat menyambut meja makan itu. Jangan-jangan selain menimbulkan kemasyhuran atas kenikmatan makanan yang dihidangkan di atasnya, meja makan Bapak telah menularkan kebahagiaan yang absurd.
Bapak selalu berhasil mencari tahu menu yang pas untuk disuguhkan kepada tamu-tamunya. Setiap tamu disuguhi menu yang berbeda: menu-menu kesukaan mereka. Pak RT sangat menyukai soto ayam, maka menu soto ayam bikinan Ibu terhidang di meja makan itu.
“Ini soto ajaib, soto ayam ternikmat yang pernah ada,” kata Pak RT usai menerima jamuan Bapak. Semangkuk soto ayam tandas dalam sekejam. Tak tersisa walaupun kuahnya barang sedikit saja.
Begitu juga komentar tamu-tamu lainnya setiap kali selesai menerima jamuan dari Bapak. Mereka selalu mengungkapkan bahwa menu-menu kesukaan mereka itu adalah yang yang terlezat yang pernah ada. Menu yang sama yang acap kali mereka santap di rumah, atau yang pernah mereka nikmati di rumah-rumah makan, kalah jauh jika dibandingkan dengan menu yang mereka santap di atas meja makan Bapak.
Tentang cara Bapak mengundang tamunya dengan sangat biasa, itu seolah muslihat saja. Walaupun Bapak mengundang tamunya dengan cara sepintas lalu, ada perencanaan yang matang sebelum itu. Alih-alih menjadi ahli derma dengan kebiasaan barunya mengundang orang untuk maan bersama, selalu ada saja sesuatu yang Bapak kehendaki dari tamu-tamunya itu.
“Tidak ada makan siang gratis,” kata Bapak suatu ketika, menirukan idiom yang mulai berkembang di Crescent City, lebih dari seabad lalu itu.
Setiap tamunya selesai diajak makan, Bapak memang selalu menyisipkan keinginan-keinginan, entah disadari atau tidak oleh tamu-tamu itu. Kepada Kang Parmin, usai menikmati karedok berdua, Bapak mengutarakan bahwa karena sering kali menjamu para tamu, persediaan beras cepat habis. Maka Kang Parmin dengan suara mantap berjanji akan segera membawakan berkarung-karung beras.
Kepada Pak RT, Bapak dengan nada yang serius menyampaikan bahwa dia tidak tahan dengan udara malam dan tidak kuat begadang. Pak RT yang langsung menangkap maksud Bapak, tanpa ragu mengabulkan apa yang diinginkannya itu. Maka terbebaslah Bapak dari kewajibannya menjalankan ronda.
Pernah juga yang diajak makan bersama oleh Bapak adalah saudagar kampung dengan kekayaan tak terhitung. Bagi Bapak, dia tentu menjadi tamu agung. Beragam menu dihidangkan untuk saudagar itu. Maka sudah bisa ditebak hal yang terjadi usai makan bersama. Bapak minta macam-macam mulai dari televisi, lemari pendingin, dan barang-barang lainnya. Bahkan Bapak minta sepeda motor juga. Semua permintaan Bapak itu dikabulkan, tidak ada yang terlewat walaupun sebagiannya.
Di hadapan meja makan, Bapak seperti menjadi si pahit lidah. Apa yang dikehendakinya mesti diiyakan oleh yang bertamu. Tidak ada kata tidak. Singkat cerita, Bapak memiliki segalanya. Segala perkakas rumah tangga, kendaraan, persediaan makanan, binatang ternak, kebun dan sawah yang berhektare-hektare, semuanya telah didapatkan Bapak. Segala sesuatu yang dulu hanya menjadi bahan angan-angan, kini semuanya menjadi kenyataan. Bahkan ada hal-hal yang sekarang dimilikinya, dulu tidak pernah dibayangkannya. Bapak benar-benar telah bergelimang kekayaan, telah bergelimang ketenaran.
***
Bapak berdiri terpaku di ruang tamu yang telah kosong. Dijambaknya rambut,  diacak-acaknya. Lalu kedua tangannya meremas-remas wajahnya dengan gemas. Bapak meraung sangat keras, raungan yang mengerikan sekali. Lalu dia terkulai lemas, terduduk sambil memeluk kedua lututnya. Bapak menangis merintih, tangis yang sangat menyayat, sungguh memilukan.
Saat malam baru naik tadi, tak disangka Pak Lurah datang bertamu. Dibawanya kambing guling, menu paling istimewa di kampung kami. Bapak merasa sangat terhormat didatangi Pak Lurah apalagi dibawakan menu yang hanya untuk orang-orang tertentu itu. Belum tiba gilirannya diundang, sudah datang, memang nasib baik selalu memihak. Begitu pikir Bapak.
Memang Bapak belum mendapat waktu yang pas untuk mengundang Pak Lurah. Akhir-akhir ini Bapak sedikit gundah. Bapak memang telah memiliki segalanya, tetapi belum memiliki kekuasaan. Kekuasaan tertinggi yang diidam-idamkan Bapak tentu saja menjadi lurah. Pikir Bapak, akan tiba masanya dia mengundang Pak Lurah dan tidak lama kemudian Bapak lah yang akan menjadi lurah. Ketika malam ini tiba-tiba Pak Lurah datang, itu adalah kebetulan yang sangat mengagumkan bagi Bapak.
Setelah menyantap kambing guling, Bapak dengan Pak Lurah ngobrol ke sana ke mari, tentang persoalan-persoalan yang penting sampai yang tidak penting. Hingga sampailah pada puncak seperti biasanya, yaitu menyampaikan keinginan-keinginan. Namun jangankan jabatan lurah yang diperoleh Bapak: segala yang telah didapatkan Bapak dengan mudah, lalu meja makan Bapak, bahkan Ibu, ternyata diincar  Pak Lurah dan ia berhasil mendapatkannya. Bapak lupa satu hal bahwa yang berkuasa di hadapan meja makan adalah yang menyiapkan menu.
Kini di ruang tamu, Bapak tak lagi menangis dan telah bangun dari duduknya. Bapak tersenyum lebar, sangat lebar. Lalu Bapak tertawa terbahak-bahak dan melonjak-lonjak. Sepertinya Bapak sangat bahagia.




Cerpen karya: Triyanto

No comments:

Post a Comment