Friday, January 10, 2020

Contoh Cerpen - Aku Suka Hujan


Aku Suka Hujan


Karena ketika kau menyukai hujan kau tak perlu merasakan basahnya air hujan. Cukup nikmati saja hujan dalam senja mungkin cintamu akan lebih bermakna terhadap hujan.
Banyak orang menjadikan hujan sebagai motivasi entah itu dari segi keindahan setelah hujan, kesejukan hujan atau, bahkan makna yang sebetulnya tersurat namun berhasil di tafsirkan oleh beberapa orang yang mempunyai cara sendiri untuk menikmati hujan. Begitu juga denganku aku memaknai hujan sebagai sesuatu yag spesial karena hujan memberikanku kenangan meski aku tak bersentuhan secara langsung dengan hujan, hujan disenja itu adalah awal dari ceritaku yang kutulis dalan urain kata-kata lembar catatan kecil kehidupanku.
Kring...kring...kring suara alarm mulai membisingi kamar serta telingaku, alarm itu berasal dari jam beker yang terletak tepat diatas kepalaku, aku selalu meletakkannya didekat tanganku karena bagiku jam yang sederhana sangat bermakna terlebih sejarah menaungi jam ini. Jika diulas kembali lucu rasanya mencintai barang yang bahkan bisa dibeli kapanpun. Namun bukan itu yang menjadi latar belakang aku menjaga jam kepunyaanku itu, melainkan jam tangan ini diberikan oleh dia tepat saat aku berusia delapan belas tahun dengan alasan yang sangat membuatku tak dapat melupakan sampai sekarang, meski bertahun-tahun telah berlalu sejak dia memberikan jam tersebut lalu hilang sampai saat ini.

Namanya Muhammad Badrudin, dan biasa kupanggil dia badru. Sekarang dia duduk dibangku SMA kelas XII di SMA Negeri 1 Sukajaya. Orangnya begitu baik, dan selelu mengingatkanku akan pentingnya waktu dan bagaimana cara kita untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Beruntungnya aku diperkenalkan dengan orang seperti dia. Aku dan dia sebelumnya memang sudah lama dekat, dari aku kelas XI SMP sampai saat ini masih bisa membalas Via Whatsap antara satu sama lain, meskipun tidak setiap hari.

Akan tetapi perasaanku sangat tak menentu saat dia memberikan benda tersebut dengan alasan yang istimewa dan dihari yang istimewa, namun perasaan itu hanya sebatas disitu saja sejak dia beranjak pergi tanpa ada kabar berita yang kuterima, seperti fosil yang ditelan bumi keberadaannya benar-benar tak lagi terlihat. Itulah alasan mengapa aku begitu menjaga barang pemberiannya setelah dia benar-benar hilang. Pernah tau pasti apa alasan dia meninggalkanku tanpa alasan, karena sejauh ini aku dan dia tampak baik-baik saja. Banyak yang mempertanyakan tentang kejelasan status anatara aku dan dia, namun dari aku ataupu dia tak bisa menjelaskan dengan tegas apa sebenarnya ikatan kami. Kami bukan sepasang kekasih, namun kami saling menjaga, kami bukan adik kakak namun saling mencurahkan kasih sayang, ketika salah satu dari kami ada yang jatuh, namun semua itu, namapk singkat saja dan berlabuh pada kejadian saat ini yang kualami. Jika saja bisa diputar kembali waktu aku tak ingin dia merayakan ulang tahunku, aku tak munafik memang bahagia saat dia memberikan kejutan namun kejutan itu nampak bertubi-dan sangat mengejutkan bukan saja dari segi kado yang diberikan, namun peristiwa dia mengingatkanku dalam adalah hal yang menjadi kejutan terbesar nampaknya.
Lagi-lagi hujan turun, aku sangat senang melihat hujan, namun hujan kali ini nampak tak menghasilkan pelangi, lalu aku melamun dan mendapatkan tafsiran dan awalnya kupertanyakan pada diriku sendiri. Mengapa aku menyukai hujan?hujan menggelapkan bumi, memang dia meninggalkan pelangi namun apakah pelangi itu bertahan lama? Tidak? tafsiran itu berlanjut diotakku. Sejak saat itu aku benci pada jujan. Kedangan pelangi seperti kisahku. Konyol rasanya marah pada diri sendiri hanya karena orang yang tak memiliki ikatan khusus.
Aku rindu hujan yang dulu, saat aku jarang mendapatkan kabar darinya namun dia selalu hadir saat aku butuh, yaa.... kami memang jarang sekali saling memberi kabar, selain karena kami memiliki kesibukan masing-masing, diular itu kami memang sengaja begitu agar ketika saling menyapa banyak topik yang harus diulas. Seperti saat itu, ketika dia memberikanku kejutan dihari spesial itu. Aku dan dia berasal dari sekolah yang berbeda namun kami sama-sama bersekolah ditempat yang jauh dari orang tua. Hari itu adalah hari dimana libur nasional dan waktunya kami beristirahat dirumah. setelah beberapa hari mendapatkan libur maka kami harus kembali lagi untuk melanjutkan sekolah, saat malam sebelum keberangkatan keesokan harinya tiba-tiba dia meneleponku dan mengajakku berangkat berdua. Sontak jantung berdebar kencang dengan lantang akupun menerima tawarannya, karena memang sudah lama kami tak jumpa, aku tak sadar ternyata saat aku dan dia pulang bersama dihari yang sama aku berulang tahun. Setelah berjam-jam kami arungi perjalanan yang cukup melelahkan sampai lah aku dan dia ditempat sekolahku  saat aku mulai melangkah tiba-tiba dia mengejarku dan memberikan kado kepadaku dengan ucapan sesingkat dan senyuman tipis namun bermakna "Selamat Ulang Tahun" begitu saja ujarnya. Aku terdiam kaku memegang kado yang diberikannya, mulutku tak bisa melontarkan kata sedikitpun hanya senyum tipis yang kuberikan. Lalu dia melanjutkan perjalanannya menuju ke tempat sekolahnya. Aku berlari menuju kelasku dengan cepat karena aku penasaran apa yang diberikannya padaku. Saat aku telah tiba dikelas aku melupakan sejenak segala aktifitas dan bergegas membuka kado darinya. Dan ternyata dia memberikanku hadiah berupa jam alarm, baru saja aku membuka bungkus kado darinya tiba-tiba handphoneku terdering dan ternyata dia yang meneleponkun "pasti kamu sudah membukakan kado dari aku" ujarnya, "kamu ko tau sih dukun ya? Atau mata-mataiku?" candaku. Dia tak menjawab candaanku namun dia..."pasti kamu bingung kenapa kau memberikanku jam ini?" "aku membrikan jam ini karena aku tak bisa setiap saat mengingatkanmu akan pentingnya waktu, aku tak selalu bisa mengingatkanmu waktu ibadah, aku tak bisa selalu tepat waktu membangunkanmu karena suatu saat aku pasti lalai dan memiliki kepentingan yang tak bisa dipastikan apa dan sampai kapannya. Aku ingin kau tetap menjadi orang selalu mengharagai waktu untuk itu jam ini kurasa solusi yang tepat. " Namun aku merasa ada kejanggalan disini, dan benar ternyata dia menyembunyikan sesuatu dariku yang terus kudesak namun masih disembunyikannya.

Akhirnya dia jujur padaku, ternyata dia mempunyai alasan tersendiri mengapa dia selama ini tidak memberiku kabar selama satu bulan karna dia tidak mau terus menerus membuatku sedih karenanya dan karna sikap aku yang sudah berbeda acuh padamu. Aku minta maaf atas semua ucapanku ini padamu, dan terimakasih banyak untuk selama ini kau sudah membantuku dari segala hal, tapi aku tidak bisa melanjutkan ini semua denganmu karna aku tidak mau kau teruus tersakiti karna ku. Aku kecewa atas semua pernyataannya tersebut, namun aku tak ingin menunjukan rasa kekecewaan karena aku takut kekecewaanku akan menjadikan bebannya. Kalimat yang diucapkannya di penguhujung telepon adalah "jaga dirimu baik-baik, jaga kesehatan dan mungkin saling mendoakan adalah cara terbaik untuk kita berdua." Air mata menyelimuti mataku, aku menangis namun aku tak ingin dia tau, dengan jawaban yang sedikit memaksakan tegar kujawab " baik tak apa aku terima semua keputusanmu, meskipun aku masih menyayangimu tapi aku tak bisa memaksakan dirimu untuk terus bersamaku. Jangan lupakan aku."

Sejak kejadian itu aku tidak membencinya sampai detik ini, aku hanya kecewa saja terhadapnya atas apa yang telah dia ungkapkan padaku dan sikap dia yang membuatku tak nyaman. Seketika aku duduk di kursi depan rumah tiba-tiba masalalu datang menghampiriku dan mengingatkanku padanya atas semua kenangan kita berdua, aku hanya bisa terdiam dan hatiku menangis ketika masalalu mengingatkanku. Termasuk kepada jam alarm pemberiannya, aku tetap menyayangi jam yang dia berikan, bagiku jam darinya adalah pengganti sosok dia yang selalu aku rindukan. Sampai aku menuliskan beribu-ribu kalimat dicatatan kecilku dia tak kunjung kembali. Sosial medianya tampak aktif namun dia tak sedikitpun memberiku kabar. Namun dari situ aku sadar pesan terakhirmu adalah tanda perpisahan darimu, dari situ aku dasar tak sepantasnya aku membeci hujan. Justru hujan adalah guru terbaikku, untuk menikmati hujan kita tak perlu membasahi diri dengan rintik-rintik air yang jatuh, cukup nikmati pesonanya di ujung senja maka kau akan merasakan cinta yang sempurna.





Karya : Nining Yulianti

No comments:

Post a Comment