Aku Suka Hujan
Karena ketika kau menyukai hujan kau tak perlu merasakan
basahnya air hujan. Cukup nikmati saja hujan dalam senja mungkin cintamu akan
lebih bermakna terhadap hujan.
Banyak orang menjadikan hujan sebagai motivasi entah itu dari
segi keindahan setelah hujan, kesejukan hujan atau, bahkan makna yang
sebetulnya tersurat namun berhasil di tafsirkan oleh beberapa orang yang
mempunyai cara sendiri untuk menikmati hujan. Begitu juga denganku aku memaknai
hujan sebagai sesuatu yag spesial karena hujan memberikanku kenangan meski aku
tak bersentuhan secara langsung dengan hujan, hujan disenja itu adalah awal
dari ceritaku yang kutulis dalan urain kata-kata lembar catatan kecil kehidupanku.
Kring...kring...kring suara alarm mulai membisingi kamar
serta telingaku, alarm itu berasal dari jam beker yang terletak tepat diatas
kepalaku, aku selalu meletakkannya didekat tanganku karena bagiku jam yang
sederhana sangat bermakna terlebih sejarah menaungi jam ini. Jika diulas
kembali lucu rasanya mencintai barang yang bahkan bisa dibeli kapanpun. Namun
bukan itu yang menjadi latar belakang aku menjaga jam kepunyaanku itu,
melainkan jam tangan ini diberikan oleh dia tepat saat aku berusia delapan
belas tahun dengan alasan yang sangat membuatku tak dapat melupakan sampai
sekarang, meski bertahun-tahun telah berlalu sejak dia memberikan jam tersebut
lalu hilang sampai saat ini.
Namanya Muhammad Badrudin, dan biasa kupanggil dia badru.
Sekarang dia duduk dibangku SMA kelas XII di SMA Negeri 1 Sukajaya. Orangnya
begitu baik, dan selelu mengingatkanku akan pentingnya waktu dan bagaimana cara
kita untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Beruntungnya aku
diperkenalkan dengan orang seperti dia. Aku dan dia sebelumnya memang sudah lama
dekat, dari aku kelas XI SMP sampai saat ini masih bisa membalas Via Whatsap
antara satu sama lain, meskipun tidak setiap hari.
Akan tetapi perasaanku sangat tak menentu saat dia memberikan
benda tersebut dengan alasan yang istimewa dan dihari yang istimewa, namun
perasaan itu hanya sebatas disitu saja sejak dia beranjak pergi tanpa ada kabar
berita yang kuterima, seperti fosil yang ditelan bumi keberadaannya benar-benar
tak lagi terlihat. Itulah alasan mengapa aku begitu menjaga barang pemberiannya
setelah dia benar-benar hilang. Pernah tau pasti apa alasan dia meninggalkanku
tanpa alasan, karena sejauh ini aku dan dia tampak baik-baik saja. Banyak yang
mempertanyakan tentang kejelasan status anatara aku dan dia, namun dari aku
ataupu dia tak bisa menjelaskan dengan tegas apa sebenarnya ikatan kami. Kami
bukan sepasang kekasih, namun kami saling menjaga, kami bukan adik kakak namun
saling mencurahkan kasih sayang, ketika salah satu dari kami ada yang jatuh,
namun semua itu, namapk singkat saja dan berlabuh pada kejadian saat ini yang
kualami. Jika saja bisa diputar kembali waktu aku tak ingin dia merayakan ulang
tahunku, aku tak munafik memang bahagia saat dia memberikan kejutan namun
kejutan itu nampak bertubi-dan sangat mengejutkan bukan saja dari segi kado
yang diberikan, namun peristiwa dia mengingatkanku dalam adalah hal yang
menjadi kejutan terbesar nampaknya.
Lagi-lagi hujan turun, aku sangat senang melihat hujan, namun
hujan kali ini nampak tak menghasilkan pelangi, lalu aku melamun dan
mendapatkan tafsiran dan awalnya kupertanyakan pada diriku sendiri. Mengapa aku
menyukai hujan?hujan menggelapkan bumi, memang dia meninggalkan pelangi namun
apakah pelangi itu bertahan lama? Tidak? tafsiran itu berlanjut diotakku. Sejak
saat itu aku benci pada jujan. Kedangan pelangi seperti kisahku. Konyol rasanya
marah pada diri sendiri hanya karena orang yang tak memiliki ikatan khusus.
Aku rindu hujan yang dulu, saat aku jarang mendapatkan kabar
darinya namun dia selalu hadir saat aku butuh, yaa.... kami memang jarang
sekali saling memberi kabar, selain karena kami memiliki kesibukan
masing-masing, diular itu kami memang sengaja begitu agar ketika saling menyapa
banyak topik yang harus diulas. Seperti saat itu, ketika dia memberikanku
kejutan dihari spesial itu. Aku dan dia berasal dari sekolah yang berbeda namun
kami sama-sama bersekolah ditempat yang jauh dari orang tua. Hari itu adalah
hari dimana libur nasional dan waktunya kami beristirahat dirumah. setelah
beberapa hari mendapatkan libur maka kami harus kembali lagi untuk melanjutkan
sekolah, saat malam sebelum keberangkatan keesokan harinya tiba-tiba dia
meneleponku dan mengajakku berangkat berdua. Sontak jantung berdebar kencang
dengan lantang akupun menerima tawarannya, karena memang sudah lama kami tak
jumpa, aku tak sadar ternyata saat aku dan dia pulang bersama dihari yang sama
aku berulang tahun. Setelah berjam-jam kami arungi perjalanan yang cukup
melelahkan sampai lah aku dan dia ditempat sekolahku saat aku mulai melangkah tiba-tiba dia
mengejarku dan memberikan kado kepadaku dengan ucapan sesingkat dan senyuman
tipis namun bermakna "Selamat Ulang Tahun" begitu saja ujarnya. Aku
terdiam kaku memegang kado yang diberikannya, mulutku tak bisa melontarkan kata
sedikitpun hanya senyum tipis yang kuberikan. Lalu dia melanjutkan
perjalanannya menuju ke tempat sekolahnya. Aku berlari menuju kelasku dengan
cepat karena aku penasaran apa yang diberikannya padaku. Saat aku telah tiba
dikelas aku melupakan sejenak segala aktifitas dan bergegas membuka kado
darinya. Dan ternyata dia memberikanku hadiah berupa jam alarm, baru saja aku
membuka bungkus kado darinya tiba-tiba handphoneku terdering dan ternyata dia
yang meneleponkun "pasti kamu sudah membukakan kado dari aku"
ujarnya, "kamu ko tau sih dukun ya? Atau mata-mataiku?" candaku. Dia
tak menjawab candaanku namun dia..."pasti kamu bingung kenapa kau
memberikanku jam ini?" "aku membrikan jam ini karena aku tak bisa
setiap saat mengingatkanmu akan pentingnya waktu, aku tak selalu bisa
mengingatkanmu waktu ibadah, aku tak bisa selalu tepat waktu membangunkanmu
karena suatu saat aku pasti lalai dan memiliki kepentingan yang tak bisa
dipastikan apa dan sampai kapannya. Aku ingin kau tetap menjadi orang selalu
mengharagai waktu untuk itu jam ini kurasa solusi yang tepat. " Namun aku
merasa ada kejanggalan disini, dan benar ternyata dia menyembunyikan sesuatu
dariku yang terus kudesak namun masih disembunyikannya.
Akhirnya dia jujur padaku, ternyata dia mempunyai alasan
tersendiri mengapa dia selama ini tidak memberiku kabar selama satu bulan karna
dia tidak mau terus menerus membuatku sedih karenanya dan karna sikap aku yang
sudah berbeda acuh padamu. Aku minta maaf atas semua ucapanku ini padamu, dan
terimakasih banyak untuk selama ini kau sudah membantuku dari segala hal, tapi
aku tidak bisa melanjutkan ini semua denganmu karna aku tidak mau kau teruus tersakiti
karna ku. Aku kecewa atas semua pernyataannya tersebut, namun aku tak ingin
menunjukan rasa kekecewaan karena aku takut kekecewaanku akan menjadikan
bebannya. Kalimat yang diucapkannya di penguhujung telepon adalah "jaga
dirimu baik-baik, jaga kesehatan dan mungkin saling mendoakan adalah cara
terbaik untuk kita berdua." Air mata menyelimuti mataku, aku menangis
namun aku tak ingin dia tau, dengan jawaban yang sedikit memaksakan tegar
kujawab " baik tak apa aku terima semua keputusanmu, meskipun aku masih
menyayangimu tapi aku tak bisa memaksakan dirimu untuk terus bersamaku. Jangan
lupakan aku."
Sejak kejadian itu aku tidak membencinya sampai detik ini,
aku hanya kecewa saja terhadapnya atas apa yang telah dia ungkapkan padaku dan
sikap dia yang membuatku tak nyaman. Seketika aku duduk di kursi depan rumah tiba-tiba
masalalu datang menghampiriku dan mengingatkanku padanya atas semua kenangan
kita berdua, aku hanya bisa terdiam dan hatiku menangis ketika masalalu
mengingatkanku. Termasuk kepada jam alarm pemberiannya, aku tetap menyayangi
jam yang dia berikan, bagiku jam darinya adalah pengganti sosok dia yang selalu
aku rindukan. Sampai aku menuliskan beribu-ribu kalimat dicatatan kecilku dia
tak kunjung kembali. Sosial medianya tampak aktif namun dia tak sedikitpun
memberiku kabar. Namun dari situ aku sadar pesan terakhirmu adalah tanda
perpisahan darimu, dari situ aku dasar tak sepantasnya aku membeci hujan.
Justru hujan adalah guru terbaikku, untuk menikmati hujan kita tak perlu
membasahi diri dengan rintik-rintik air yang jatuh, cukup nikmati pesonanya di
ujung senja maka kau akan merasakan cinta yang sempurna.
Karya : Nining Yulianti